BERSAMA NENEK DARI IBU
SAMPAI
sekarang kalau teringat nenek. Yang teringat adalah mengaji. Sejak
kecil sebelum saya tidur nenek selalu bercerita tentang kisah-kisah yang
ada dalam Al Quran, mulai dari kisah para nabi maupun para tabi'it
tabiin. Walaupun dalam usia senja sampai sekarang nenek sangat rajin
mengikuti pengajian-pengajian. Subkhanalloh dari neneklah saya belajar
mengerti hidup. Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan selalu terkuak
ketika berbicara bersama nenek.
Nenek tinggal di desa Njati, sebuah desa di Salatiga. Nenek bagi saya adalah seorang figur yang gigih. Meskipun anak-anaknya telah sukses dan berkeluarga semua, namun nenek tidak pernah sekalipun meminta sesuatu dari anak-anaknya. Beliau tidak mau membebani orang lain walau cucunya sekalipun. Nenek tetap berjualan di pasar, mengambil hasil dari panenannya di sawah dan hasil kebunnya. Sungguh pelanaran yang sangat berharga. Dari kecil saya tidak pernah berjumpa dengan kakek dari ibu karena ibu adalah anak yatim, beliau meninggalkan dua orang putri dan putra. Nenek tidak pernah bersuami lagi, meskipun mengurus putra-putri yang masih kecil.
Kakek sangat santun, halus tutur kata, sholeh, seorang ulama, sangat dermawan dan suami terbaik di mata nenek dan setulus hati begitu menyayangi nenek. Sehingga meskipun waktu itu nenek masih masih muda dan janda, posisi kakek di hati nenek tak tergantikan.
Semoga Alloh melimpahkan kasih sayangnya kepada nenek, semoga tahun depan cita-cita nenek bisa berangkat ke baitulloh makkah tercapai, amin... Semoga ilmu-ilmu yang saya amalkan yang telah beliau ajarkan mengalir juga pahalanya kepada nenek dan tiada terputus hingga yaumul-qiamah.
.jpg)











0 comments:
Post a Comment